:::::: Gelanggang Seni Sastra Teater dan Film ::::::
…
[Marika Griehsel] Apakah sastra untuk Anda … menulis … apakah seseorang harus sangat jujur?
[Herta Müller] Ya, seseorang harus jujur dengan diri sendiri. Melalui Menulis seseorang mengalami sesuatu yang berbeda dengan apa yang orang lain mengalaminya melalui panca indera yang dimilikinya karena bahasa adalah keahlian khusus yang berbeda. Dan dalam Menulis seseorang mencari, dan itulah apa yang membuat seseorang menulis, bahwa seseorang melihat dan mengalami sesuatu dari sudut yang lain sama sekali, seseorang mengalami diri sendiri selama proses penulisan. Menulis itu sendiri tidak mengetahui seperti apa rupanya sedangkan seseorang melakukannya, hanya kalau menulisnya sudah selesai -pen:barulah diketahui. Dan selama saya menulis saya berada dalam keadaan tetap aman/perlindungan (safekeeping), maka saya punya beberapa ide tentang bagaimana kehidupan dapat berjalan terus, dan ketika saya bisa sampai ke akhir teks saya tidak mengetahuinya lagi.
…
Sumber: http://nobelprize.org/nobel_prizes/literature/laureates/2009/muller-telephone_en.html diakses pada 19 Desember 2009
“Let the wisdom of the old guide the buoyancy and vitality of the youth; let the buoyancy and vitality of the youth sustain the wisdom of the old.” - Stanislavsky
apa hendak dikata ketika kata sudah tak bisa menyiratkan makna
hanya angkaangka yang berderet yang tak bisa aku baca
berderet seperti rentetan semut yang sedang hilir mudik
sementara katakata sedikit kumaknai
selebihnya aku tak.
sejauh mata memandang, sedalam pikiran tenggelam
aku hanya bisa memicingkan kepala, menerawang jauh ke awang
tak ada batas aku tahu karena tempat ini berlubang
pun demikian aku hanya bisa membayang sejauh mata memandang
menerawang pun aku tak.
hebat, dan entahlah sobat
selintas saja malam begitu pekat
demikian sebentar dan tanpa terlambat
penyair ini wafat dihari jum’at
seperti sepi yang masih misteri
seperti diri yang pasti mati
tapi maksud tak akan berhenti
dan mereka masih tetap berdiri
Jatipadang, Jakarta Selatan
Sebelum Ramadhlan
Bahkan keroncongku waktu itu, ternyata salah melagu…
Gaudeamus igitur, juvenes dum sumus.
Gaudeamus igitur, juvenes dum sumus.
Post jucundam juventutem, Post molestam senectutem
Nos habebit humus. Nos habebit humus
Vivat Academia, vivant professores
Vivat Academia, vivant professores
Vivat membrum quodlibet, Vivant membra quaelibet,
Semper sint in flore, Semper sint in flore.
Baris terakhir De Brevitate Vitae. Rupanya Do’a itu yang tak pernah diajarkan.
Semoga karena Tuhan Yang Kuasa. Baru saja memulai bukan berarti mati kawan. jika saja kehendak itu datang sedikit lebih dulu, mungkin pelana ini tak mudah disematkan di punggung tunggangan kita. Terhitung tigabelas hari dari awal bulan, bulan kesepuluh tahun delapan empat, waktu itu, dan sekarang empat tahun menjelang tridasa, Gelanggang Seni Sastra Teater dan Film seperti yang sudah terlalu tua untuk hal sepele macam ini, bukan sengaja tak terburu-buru, hanya saja memang berasa enggan jika selalu terburu-buru. Buku biru-coklat itu seperti punya saudara maya tak kasat mata. Ini, untuk ini. Ternyata dia bilang, 'Seni' untuk 'seni'.